Tentang Produk Gift Cerita Tulisan Daftar Batch 10
← tulisan
Refleksi 4 September 2026

Personal Branding Bukan Tentang Melihat Aku

Di sebuah kesempatan, ada seorang selebgram dan influencer dakwah/hijrah meminta sesi ngobrol one on one dengan saya tentang permasalahan dalam hidupnya. Beliau menyampaikan keresahan hatinya: merasa tidak nyaman dengan semua konten tentang keromantisan dan keharmonisan dengan pasangannya yang tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Tetapi bagaimana lagi, karena “tuntutan” personal branding.

Saya tidak akan membahas masalah beliau lebih dalam — entah tentang ain atau masalah psikologis apa pun. Di tulisan ini saya hanya akan membahas apa yang beliau sampaikan tentang personal branding: kenapa, apa, dan bagaimana.

Kenapa personal branding?

Karena memang visibility itu penting. Dalam karir dan dalam banyak hal, pada dasarnya kita membangun trust dan visibility.

Yang jadi masalah adalah ketika proses membangunnya. Banyak orang yang kemudian menyamakan personal branding dengan narsis, karena memang banyak contoh seperti itu. Kebanyakan personal branding mengacu pada “Lihatlah Aku.” Aku bisa seperti ini loh. Aku sekeren ini loh. Aku sehebat ini loh. Ini loh karya-karyaku. Maka belilah produkku.

Menggeser “lihatlah aku” menjadi “lihatlah ini”

Ada sebuah konsep menarik yang saya pelajari tentang personal branding, yaitu menggeser “lihatlah aku” menjadi “lihatlah ini.”

Personal branding di sini adalah tentang curiosity seseorang terhadap apa yang memang menarik baginya. Bahasanya begini: “Lihatlah ini, ada sesuatu yang menarik. Aku juga tertarik dengannya.” Dalam proses ini, berbagilah pengetahuan, pengalaman, keahlian, dan apa pun yang ber-value tentang suatu hal. Dan jadilah nampak secara otomatis karena sesuatu itu.

Jebakan kesempurnaan

Personal branding pada umumnya selalu mengharuskan kita nampak sempurna. Terkait contoh di atas — jika aku ngomongin tentang keluarga, aku harus selalu dan sering memamerkan keromantisan keluarga. Dan di sinilah jebakannya.

Visibility doesn’t require perfection; in fact, perfection kills connection. Tidak harus sering dipamerkan, tidak harus terlihat sempurna. Sekali lagi, jangan kejebak sama jebakannya.

Personal branding juga bukan semata tentang exposure. Tidak harus instan, tidak harus viral, tidak harus FYP.

Salah seorang penulis buku dan pembicara favorit saya, Cal Newport, bahkan bisa terkenal dan terlihat walau ia tidak punya media sosial sama sekali. Sama juga dengan sutradara hebat Christopher Nolan — keduanya membangun personal branding dengan karya-karya tanpa sosial media.

Btw, menulis ini pun juga bagian dari personal branding.